by

Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng Tingkatkan Potensi Budidaya Keramba

-Palu-38 views

PALU, PIJARSULAWESI.Com – Potensi perikanan di perairan tawar meliputi perikanan danau, waduk, rawa, sungai (perairan umum), perikanan budi daya kolam, dan mina padi di sawah. Luas perairan umum di Indonesia mencapai 55 juta hektare. Selain untuk perikanan tangkap, perairan umum juga mempunyai potensi yang cukup besar bagi pengembangan budi daya ikan di Keramba. Utamanya Keramba Jaring Apung (KJA)
Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulawesi Tengah (Sulteng), sengaja mengambil peran di salah satu potensi budi daya ikan keramba dalam meningkatkan potensi perikanan di daerah ini. Untuk itu, pihaknya telah mengembangkan berbagai jenis ikan nila, dengan berbagai keunggulan yang disesuaikan dengan tantangan lingkungan dan ekonomi yang dihadapi.
Sebagaimana diketahui, pascabencana 28 September 2018, Irigasi Gumbasa sebagai sumber air untuk wilayah Sigi dan sekitarnya belum bisa mendistribusi air secara normal untuk kebutuhan para petani tambak seperti sebelum terjadinya bencana yang melanda empat daerah di Sulteng. Olehnya itu, perlu disiasati dengan inovasi. Salahsatunya, dengan perlakuan tambak menggunakan terpal dan bibit ikan yang bisa beradaptasi dengan kondisi air yang relatif minim.
Untuk itu Kepala DKP Provinsi Sulteng, Arief Latjuba, pascabencana Sulteng dan di masa pandemi Covid-19 ini, ia mendorong seluruh stafnya untuk terus berinovasi melalui sumber daya yang dimiliki
“ Pemeliharaan bibit Ikan Nila Gesit di kolam terpal, saya yakin bisa menjawab kekurangan pasokan air dari Irigasi Gumbasa,” kata Kadis DKP Sulteng Arif Latjuba di ruang kerjanya, Rabu (20/1/2021).

Panen Perdana Ikan Nila Gesit di Dolo, Agustus 2020. foto Dokumen DKP Sulteng

Pemilihan jenis Ikan Nila Gesit ini kata Arif, juga adalah untuk menjawab tantangan kebutuhan pangan masyarakat di masa pandemi Covid-19. Karena jenis ikan ini relative mudah dipelihara. Jenis ikan ini tidak terlalu membutuhkan perlakuan khusus untuk sumber airnya. Walau bukan air deras, jenis ikan ini bisa bisa berproduksi optimal
“Ikan nila sudah bisa di penen dalam jangka waktu 3-4 bulan dan tergantung besar bibitnya termasuk pemberian pola makan yang baik, pasarannya juga tidak sulit,” jelasnya.
Untuk itu, pihaknya sejak tahun 2020 telah menyiapkan tambak percontohan di UPT Perbenihan dan Perikanan DKP Provinsi Sulteng di Rarantea Desa Tulo Kecamatan Dolo Kabupaten Sigi, meskipun di daerah lain sudah sejak lama memulai, tidak ada salahnya juga mengikuti rekam jejak daerah yang telah lebih dulu memulai dan hasilnya terbilang bagus dalam mendukung sektor perekonomian Sulteng pada umumnya dan masyarakat pada khususnya. Ini diluar potensi kelautan.
“ Nanti ada sesinya untuk potensi kelautan, kita mulai dari keramba dulu karena data masih dikonekkan dalam RPJMD yang kini masih sementara proses untuk data base lima tahun ke depan,” imbuh Arief
Saat ini Provinsi Sulteng mempunyai sumberdaya perikanan dan kelautan yang sangat potensial untuk dikembangkan. Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Banggai Kepulauan juga termasuk salah satu kabupaten di Sulawesi Tengah yang mempunyai potensi perairan yang lengkap, yaitu perairan umum dan perairan laut (kawasan pesisir). Potensi ini telah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kegiatan penangkapan dan budidaya.
Untuk budi daya pengembangan keramba ini, masih memilih ikan nila gesit karena omzetnya lumayan bagus. pengembangan Tambak Ikan Nila yakni Harga jual ikan nila saat ini terbilang tinggi berkisar Rp. 30.000-Rp. 36.000 per kilogram. Sejauh ini kurang lebih sekitar 2.200 ekor ikan nila yang bisa ia panen dengan omzet sekitar Rp. 18 juta
“ Kami telah melakukan panen perdana ikan gesit, media Agustus 2020, tidak lain untuk mendorong warga juga yang ingin mengembangkan potensi ikan nila gesit sehingga tambak ini juga diperuntukkan sebagai percontohan, dan setiap 3 -4 bulan sudah bisa panen, ” ujar Arief Latjuba.
Menurutnya, selama proses pemeliharaan, proses penggantian airnya hanya berlangsung sekali dalam sebulan. Itupun proses penggantian air dari total volume air tambak sekitar 15 persen. Sangat berbeda perlakuan terhadap jenis ikan air tawarnya lainnya.
“Kalau misalnya, ikan air tawar jenis Ikan Mas, perlu air deras. Tapi kalau Ikan Nila Gesit cukup air tenang, sudah bisa menghasilkan panen yang optimal,” ujarnya.
Sedangkan kegiatan budidaya yang dilakukan masyarakat meliputi kegiatan budidaya kolam, jaring apung, karamba, dan tambak. Potensi lahan budidaya ikan dalam kolam mencapai 39.558,3 ha, dimana dari luasan tersebut telah dimanfaatkan sebesar 538,1 ha. Produksi ikan dari budidaya di kolam tahun 2020 sebesar 37.157 ton, dimana sebanyak 21.485,2 ton berasal dari beberapa kabupaten. Jenis ikan yang banyak dibudidayakan dalam kolam, seperti nila, mas, lele, gurami, betok dan gabus.
Di tempat yang sama, Kepala UPT Perbenihan Huriah Fatimah, SPi, M.Si mengatakan, pihaknya berupaya semaksimal mungkin agar seluruh unit-unit perbenihan lingkup DKP Provinsi Sulteng bisa kembali berproduksi.
Menurutnya, dari sejumlah unit perbenihan di lingkup DKP Sulteng, sudah enam BBI yang kembali berproduksi pascabencana. Tersisa, unit perbenihan Lauwwa dan Bolupapu yang belum berproduksi karena terkendala teknis.
“Alhamdulillah, dari 6 BBI sudah berproduksi, tinggal Bulopapu belum berproduksi karena sering dilanda bencana banjir bandang, sedangkan Lauwa sulit distribusi benih ke lokasi itu,” kata Huriah ditemui sebelum pelaksanaan panen perdana.
Untuk sumber air tambak di BBI Tulo ini katanya, berasal dari air tanah dengan menggunakan sumur suntik. Sehingga, pasokannya tidak terlalu bergantung dari Irigasi Gumbasa.
Sementara itu, Nuzlan, staf UPT BBI Tulo mengatakan, jenis ikan yang dipanen kali ini adalah Nila Gesit. Masa penaburan benih hingga panen berlangsung sekitar 5 bulan dengan tingkat keberhasilan sekitar 70 persen, kalau dilihat dari hasil panen.
“Diperkirakan tingkat keberhasilannya sekitar 70 persen selama proses pemeliharaan mulai benih hingga panen , relative tidak banyak yang mati sebenarnya,” kata Nuzlan di sela-sela panen.
Di samping itu, potensi keanekaragaman jenis dan plasma nutfah ikan di Indonesia mencapai 655 jenis ikan asli dì perairan tawar, 160 jenis ikan di antaranya tergolong bernilai ekonomis penting, dan hanya 13 jenis ikan (8%) sudah dibudidayakan.. Salah satu jenis ikan potensial dan prospektif untuk dikembangkan di perairan tawar adalah ikan nila.
Apalagi didukung dengan adanya pengenalan teknologi baru dalam perikanan memberikan kontribusi pada ketersediaan benih yang dihasilkan dan perkembangan pakan ikan. Spesies ikan yang umum dibudidayakan antara lain ikan karper atau ikan mas (C. carpio), ikan nila (Oreochromis nhloticus), dan gurami (Osphronemus goramy). Areal potensial untuk perikanan budi daya terdiri atas kolam, sawah (mina padi), dan perairan umum. Perairan umum yang cocok untuk budi daya ikan berupa sungai, rawa, danau, waduk, dan lain-lain. Potensi perairan payau (tambak) dan air asin (laut) bersalinitas 0 – 40 per mil.
Hal ini juga dalam mendukungn program ketahanan pangan nasional dalam memenuhi kebutuhan pangan protein hewani (ikan).
Sementara salah seorang petani tambak yang sudah berhasil di kabupaten Donggala yang baru menggunakan kolam terpal seluas 5 x 5 meter, dengan benih hanya sebanyak 3.000 ekor. Hasilnya bisa mendukung perekonomian bukan hanya keluarga tapi daerah apalagi nilai ekonomis ikan nila yang cenderung naik membuat bisnis budidayanya terus berkembang.
“Saya memilih budidaya ikan nila karena memiliki harga pasar yang lebih stabil, kemudian cara pemeliharaan juga terbilang mudah, dan sudah bisa dipanen dalam jangka waktu 3 -4 bulan kedepannya,” ujarnya. SAH

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed