by

Miris, Faktor Ekonomi dan Agama Alasan Terkuat Terjadinya Perkawinan Anak

-Palu-28 views

PALU, PIJARSULAWESI.Com– Salah satu penyebab terjadinya perkawinan anak antara lain karena faktor tradisi atau paham adat, agama, pendidikan, dan geografis serta faktor ekonomi yang mendorong para orangtua untuk menikahkan anaknya di usia muda.
Anak yang masih di usia muda sudah dinikahkan. Sebenarnya menikah itu dilakukan jikalau anak dianggap sudah mampu, baik secara fisik, ekonomi, dan mental. Tetapi hal ini terkadang diabaikan oleh para orang tua. Demikian dikatakan Kepala Perwakilan BKKBN Sulteng, Maria Ernawati saat diwawancarai disela launching Program Patujua.
Beragam alasan yang mengemuka dari para orangtua yang menikahkan anaknya di usia muda. Selain alasan menghindari zinah, pernikahan anak juga didorong faktor kesulitan ekonomi.
Dari hasil mini survey BKKBN juga menunjukkan motif agama dan ekonomi jadi alasan terkuat mengapa masyarakat, khususnya orangtua dan pasangan belia mendukung perkawinan anak.
Sementara dalam aturannya, remaja menikah idealnya di saat sudah berusia 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Karena di saat usia tersebutlah remaja mengakses sudah siap fisik, mental dan ekonomi untuk memasuki bahtera rumah tangga.
Khusus di Sulawesi Tengah, berdasarkan data yang ada, pernikahan usia ideal belum tercapai. Bahkan, hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017, menunjukkan rata-rata usia kawin pertama di Sulteng masih berada di angka 20,1 tahun.
Maka tak heran, Sulawesi Tengah saat ini menempati urutan kelima secara nasional untuk peringkat tertinggi kasus perkawinan anak.
”Ini menjadi PR kita bersama untuk melakukan upaya pencegahan perkawinan anak. Dan, melalui Patujua kita berharap dapat menurunkan peringkat Sulteng dalam kasus perkawinan anak,” tandasnya.
Data menyebutkan, sudah ratusan kasus perkawinan anak yang terjadi di Sulawesi Tengah, apalagi pascabencana di Sulteng ditambah lagi masa pandemi Covid 19. Banyak anak yang jadi korban menikah diusia muda.
Sementara data Unicef ​​dan BPS, ada sekitar 1.800 anak usia yang berusia 18 tahun menikah setiap harinya. Angka tersebut sebanding dengan satu dari anak perempuan yang menikah sebelum 18 tahun. SAH

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed