Gubernur Sulteng Minta Tokoh Agama Berperan Aktif Cegah Pernikahan Dini

0
16
Gubernur Sulteng H Longki Djanggola dalam launching program integritas Patujua sekaligus mengukuhkan Perkadis Bangga Kencana, Kamis 19 November 2020 di ruang Pogombo Kantor Gubernur Sulteng.Foto: Humas Pemprov

PALU,PIJARSULAWESI.com- Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) H Longki Djanggola meminta tokoh-tokoh agama (Toga) dan toko masyarakat (Tomas) berperan aktif dalam mengedukasi masyarakat terkait upaya pencegahan pernikahan usia dini.
Menurutnya, salahsatu faktor penyebab terjadinya pernikahan dalam usia dini karena dipengaruhi doktrin agama atau budaya. Selain daripada pergaulan bebas.
Demikian Gubernur dalam kegiatan launching program Patujua dan pelantikan Perkumpulan Kepala Dinas (Perkadis) pengelola program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) tingkat Sulteng, Kamis 19 November 2020 di Gedung Pogombo kompleks Kantor Gubernur Sulteng.
“Ada fakta secara psikologis, masyarakat yang sudah ditegur untuk tidak melakukan pernikahan dini, tapi jawaban mereka sudah dinikahkan secara agama dan budaya,”ungkap Longki.
Situasi psikologis demikian kata Longki, memang sulit dihadapi. Karenanya ia berharap Toga dan Tomas bisa berperan aktif memberikan edukasi dan pemahaman yang baik. Agar harapan untuk menekan angka pernikahan usia dini di Sulteng mampu diwujudkan bersama.
Dia menambahkan, Sulteng saat ini adalah daerah dengan angka Pernikahan anak yang tinggi di Indonesia. Secara nasional menempati urutan ke 5 tertinggi.
Data statistik menunjukkan, bahwa 48,9 persen pernikahan di Sulteng melibatkan, wanita dibawa usia 20 tahun. Selain itu 32 persen wanita di Sulteng kawin dibawah usia 18 Tahun.
Kondisi ini ujarnya memprihatinkan karena berdampak negatif multidimensional. Yakni kesehatan ibu, bayi dan anak. Serta kesejahteraan dan keharmonisan keluarga.
Sementara dari segi kesehatan ibu, bayi dan anak, pernikahan dini bisa mengakibatkan stunting.
“Selain itu kematian ibu dan bayi dapat menjadi konsekuensi pernikahan dini,”paparnya
Peluncuran program Patujua tambah Longki, nantinya akan mengintegrasikan lintas sektor. Patujua diadopsi dari bahasa Kaili yang artinya menuju tujuan bersama.
Patujua merupakan program tepadu yang dilaksanakan OPS terkait, LSM,LSOM, dan tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh adat dalam percepatan penurunan pernikahan di di Sulteng.
“Program ini dipelopori BKKKBN Perwakilan Sulteng,”sebutnya.
Dia menambahkan, Sulteng saat ini adalah daerah dengan angka Pernikahan anak yang tinggi di Indonesia. Secara nasional menempati urutan ke 5 tertinggi.
Data statistik menunjukkan, bahwa 48,9persen pernikahan di Sulteng melibatkan, wanita dibawa usia 20 tahun. Selain itu 32persen wanita di Sulteng kawin dibawah usia 18 Tahun.
Kondisi ini memprihatinkan karena berdampak negatif multidimensional. Yakni kesehatan ibu, bayi dan anak. Serta kesejahteraan dan keharmonisan keluarga.
Sementara dari segi kesehatan ibu, bayi dan anak, pernikahan dini bisa mengakibatkan stunting.
“Selain itu kematian ibu dan bayi dapat menjadi konsekuensi pernikahan dini,” ujarnya. ***

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Silahkan masukkan Nama Anda