Mencegah Stunting dan Pernikahan Dini di Desa, BKKBN Tingkatkan Kompetensi Penyuluh

0
60

Kaper BKKBN melantik duta GenRe sekaligus menyambangi sejumlah desa di Kabupaten Tojo Una-una. Foto: HumasBKKBN Sulteng

PIJARSULAWESI.Com – Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) Maria Ernawati menyasar beberapa desa dengan mengunjungi balai-balai keluarga berencana dan fasilitas kesehatan di Kabupaten Tojo Unauna, serta berdialog langsung dengan penyuluh KB, para camat dan kepala desa.

Kunjungan pertamanya di Kabupaten Tojo Una-Una (Touna) sejak dilantik sebagai Kepala BKKBN Sulteng, Erna mengunjungi beberapa desa di Ampana Kota, Ampana Tete, Kecamatan Tojo, dan Tojo Barat.
Maksud kunjungannya ke beberapa desa tersebut terkait banyaknya informasi mengenai kasus stunting, pernikahan dini, dan kemiskinan yang mengemuka dengan memberikan penyuluhan kepada para petugas lapangan (penyuluh KB), para camat dan para kades.
Pada setiap pertemuannya dengan masyarakat, petugas penyuluh dan perangkat desa, Erna mengatakan bahwa core bisnis BKKBN program pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana (banggakencana) dengan sasaran utama adalah keluarga.

Katanya, para penyuluh keluarga berencana dan petugas lapangan keluarga berencana (PKB/PLKB) harus mengetahui hal tersebut.
“PKB/PLKB harus tahu semua persoalan di wilayah masing-masing. Penyuluh harus mempunyai data dan melakukan analisa data, serta berkoordinasi dengan pemerintah setempat. Penyuluh harus tahu program prioritas pemerintah di wilayahnya,” ujarnya.

Dalam hal keterbatasan jumlah penyuluh dan wilayah pekerjaan yang luas, Erna menyarankan agar penyuluh KB mengedapankan sistem manajerial antara lain berupaya meningkatkan kompetensi kader-kader KB di desa atau kecamatan sehingga penyuluh tidak kesulitan melakukan pembinaan kepada masyarakat.
BKKBN mempunyai 352 penyuluh di Sulawesi Tengah untuk melayani 175 kecamatan dan 2.017 desa/kelurahan. Itu artinya, 1 (satu) penyuluh KB melayani 5-6 desa.
Erna menambahkan bahwa melalui program banggakencana, BKKBN menekankan pentingnya sebuah perencanaan keluarga agar isu stunting, pernikahan dini, dan kemiskinan dapat dicegah.
Khusus untuk penanganan pernikahan dini, BKKBN menggalakkan program generasi berencana (GenRe) yang dikembangkan melalui pusat informasi dan konseling remaja (PIK R) dan bina keluarga remaja (BKR).
Sedangkan penanganan stunting melalui program bina keluarga balita (BKB) dengan menu utama 1000 hari pertama kehidupan.
Selain itu, BKKBN juga mengukuhkan Ayah dan Bunda GenRe dari tingkat provinsi hingga desa. Harapannya, remaja mempunyai tokoh panutan yang dapat menginspirasi dan memotivasi remaja untuk merencanakan masa depannya.
Pada kesempatan yang sama, Camat Ampana Tete, Much. Ichsan Mursali mengatakan, kasus-kasus stunting, pernikahan dini, dan kemiskinan ditemukan di daerahnya. Berbagai inovasi telah dilakukan untuk mengatasi hal tersebut.
“Kami telah meluncurkan lima inovasi dan akan me-launching 2 inovasi untuk mencegah stunting dan mengurangi angka pernikahan dini,” ujarnya ketika melakukan tatap muka dengan PKB/PLKB di Desa Sabo.
Camat Tojo mengatakan bahwa untuk mencegah stunting diantaranya memaksimalkan pemanfaatan dana desa, termasuk pembinaan kalangan remaja. SAH

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Silahkan masukkan Nama Anda