Wajah Baru Juarai Grand Slam Australian Open 2020

0
127

Sofia Kenin mencium Piala Daphne Akhurst Memorial setelah mengalahkan mantan petenis nomor satu dunia asal Spanyol Garbine Muguruza pada final grand slam Australian Open 2020. (Saeed Khan/AFP)

PIJARSULAWESI – Sofia Kenin terjun di Australia Terbuka 2020 sebagai unggulan ke-14. Peluangnya menjuarai turnamen hanya 35/1 di bursa-bursa taruhan. Tentu saja, Kenin tak hanya membuat bandar rugi berat, tapi juga memberikan kejutan yang menyenangkan di jagat tenis tunggal putri.

Sekali lagi, grand slam dimenangkan wajah yang sama sekali baru.

Ya, Kenin, yang 15 tahun lalu masih mengikuti study tour ke Miami Open, kini sudah merasakan gemerlapnya gelar grand slam. Petenis AS itu menjuarai Australia Terbuka setelah mengalahkan mantan pemain nomor satu dunia Garbine Muguruza dalam tiga set 4-6, 6-2, 6-2 di Rod Laver Arena, Melbourne, kemarin.

Dengan usia 21 tahun 80 hari, Kenin menahbiskan diri sebagai peraih trofi Australia Terbuka tunggal putri termuda dalam 12 tahun. Atau sejak Maria Sharapova, idolanya, menjadi kampiun pada 2008 di usia 20 tahun. Ngomong-ngomong, ini bukan saja gelar grand slam pertama buat Kenin, melainkan juga final grand slam perdana. Langsung juara!

Tidak mengherankan kalau petenis yang dikenal pendiam itu nervous sebelum menerima trofi. ’’Ini pidato pertamaku. Tapi akan kucoba lakukan yang terbaik,’’ ucap Kenin sebelum memberondongkan puluhan ucapan terima kasih. ’’Impianku secara resmi telah menjadi nyata. Aku sangat emosional. Aku telah bekerja begitu keras. Ini dua pekan terbaik dalam hidupku,’’ tuturnya berkaca-kaca.

Berkat kemenangan tersebut, peringkat dunia Kenin bakal meroket ke posisi ketujuh. Naik delapan level dari posisi sebelumnya. Dia juga menjadi petenis putri terbaik AS, menggeser Serena Williams yang ada di peringkat ke-10 dunia.

Ayah Kenin, Alex, sangat bangga. Dia merasa pertaruhannya merantau ke AS selama hampir 22 tahun terbayar lunas. Ya, Kenin berasal dari Rusia. Seperti Sharapova, dia lahir di Moskow pada 14 November 1998. Tak lama setelah Kenin lahir, Alex memboyong keluarganya pindah ke AS demi kehidupan yang lebih baik. Dia bekerja sebagai sopir taksi dan sekolah komputer.

Kenin belajar tenis di usia 3,5 tahun. Alex sendiri yang mengajari. Perjalanan mempertemukan dia dengan pelatih Rick Macci. Di usia 6 tahun, Kenin mengikuti tur Miami Open yang dipandu juara grand slam Kim Clijsters. Kenin sangat menikmati masa-masa berlatih tenis.

Meski bukan pemain dengan fisik paling bagus (tingginya hanya 170 cm), Kenin punya banyak keunggulan. Dia powerful di baseline dan bergerak dengan kecepatan yang sama dengan lawannya. Selain itu, dia memiliki jiwa kompetitif seperti Sharapova. Hal itu yang dia perlihatkan selama melawan Muguruza kemarin.

Pada set pertama, kelihatannya Muguruza yang bakal merebut gelar grand slam ketiganya. Juara Prancis Terbuka 2016 dan Wimbledon 2017 itu bermain nyaman setelah dua kali mematahkan servis Kenin.

Dia meninggalkan lapangan sebentar, dan kembali dengan fokus lebih baik. Dia berhasil membalas dengan menciptakan beberapa break point yang dikonversi menjadi angka.

Pada set penentuan, dalam kedudukan 2-2 (40-0), Muguruza tiba-tiba mati langkah. Dua backhand Kenin tak bisa dikembalikan. Kenin merebut game tersebut, leading 3-2, dan tak terhentikan menjadi juara.

Perjalanan Kenin di Australian Open 2020 memang istimewa. Sebelumnya, pada semifinal, dia mengalahkan unggulan nomor satu, tunggal putri nomor satu dunia, dan pahlawan tuan rumah Ashleigh Barty.

(jawa pos)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Silahkan masukkan Nama Anda